​GONTOR DAN TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJK

Gambar diatas adalah rumah keluarga Ibu Robi’ah istri pertama pak Zainuddin Fanani dia anak bangsawan Minang maklum beliau Salah satu Tri murti yg paling ganteng . Kisah Cintanya sangat berliku maklum adat minang zaman itu masih kuat kawin antar suku sangat tabu.

Rumah itu di Payakumbuh. Waktu saya datangi, di dalam rumah itu masih tergantung foto2 pernikahan Pak Fanani. Yg tentu saja didampingi Pak Zar.. Bisa dibayangkan, menikah di tanah perantauan dengan hanya diantar adik saja sebagai wakil keluarga…

Di suatu pagi di kota Padang, seperti biasa di rumah pasangan muda itu telah tersaji secangkir kopi panas dan sebuah lipatan koran yg baru diantar….

Namun saat membuka halaman pertama, lelaki muda itu sontak terkejut dan termangu. Seolah tak percaya berita yg menjadi tajuk utama koran pagi itu. Ya, koran itu memberitakan tenggelam nya Kapal Van Der Wijk. Kapal yg baru beberapa pekan lalu dinaiki adiknya pulang ke jawa, dan ia bersama kawan dekatnya ikut mengantar ke pelabuhan teluk bayur..

Ia mendesah dengan nafas dalam tak tahu apa yg harus dilakukan.. Ia hanya membayangkan sosok adik yg sangat dicintainya itu ikut tenggelam, yg berarti tenggelam pula sebagian cita cita keluarga untuk menjadi bagian dari perjuangan besar bangsa ini….

Termangu dan tak berkutik, hingga membuat kawannya yg biasa datang pagi itu ter heran heran. “Ada apa gerangan..?” Pikirnya dalam hati. Sebagai seorang junior, kawannya ini pun ragu menanyakan perihal apa yg sedang menimpa sahabat baiknya ini. Ia pun hanya bisa melihat lihat dan mencoba menerka apa yg terjadi..

Lelaki yg sedang termangu memegang koran itu adalah Zainuddin. Dan kawannya yg datang itu tak lain adalah Hamka. Dua sobat seperjuangan ini memang sangat kental.

Saat Hamka melirik ke bawah, terlihat tulisan besar di headline koran itu; berita tentang tenggelam nya Kapal Van Der Wijk..

Kali ini Hamka ikut menghela nafas dalam. Ia faham kini mengapa Zainuddin sepertinya kaku membisu bagai sedang disamber petir.. Hamka juga ikut mengantar Zarkasyi ke teluk bayur saat itu. Pastilah Hamka juga ikut merasakan apa yg dirasakan Zainuddin.

Namun dengan kepala dingin, Hamka memungut koran itu dan membacanya secara perlahan; kata demi kata..

Sesaat kemudian Hamka dengan wajah cerah berusaha menenangkan sahabatnya itu.

“Kakanda.. Sepertinya adinda Zarkasyi selamat dari musibah ini..” Kata Hamka dengan senyum yg setengah dipaksakan.

“Hah.., bagaimana kau tahu..?” Tanya Zainuddin yg rupanya baru teraadar ada kawan dekatnya yg datang.

“Lihat, Kapal ini tenggelam dalam perjalanannya dari Tanjung perak menuju teluk bayur. Sementara adinda Zarkasyi naik Kapal ini dengan tujuan Tanjung perak..”

“Coba berikan koran itu padaku…” Kata Zainuddin menyerigai..

Setelah membaca dengan seksama, ia pun berpikir kembali dan berkata;

“Seharusnya telegram atau kartu pos dari Zarkasyi sudah saya terima jika is sudah sampai Surabaya. Tapi sampai saat ini belum ada telegram maupun kartu pos yg datang…”

Hamka punya ide untuk menyelesaikan keraguan kawannya ini. Ia mengajak ke kantor telepon untuk menghubungi redaksi koran itu untuk dapat konfirmasi dari wartawannya yg di jawa…

Kembali ke Padang..

Saat dua sahabat itu bersiap keluar ingin menuju kantor pos atau kantor telepon, tiba tiba ada tukang pos datang membawa telegram. Ditujukan untuk kakanda Zainuddin.

Zainuddin langsung menyambar telegram yg sebenarnya hanya berisi beberapa kata saja. Namun penting maknanya bagi dia. Dia buka telegram itu dan dia baca;

Alhamdulillah adinda telah tiba. Selamat. Maaf. Baru bisa kirim dari madiun.

Ttd.

Zarkasyi.

Kali ini Zaenuddin sangat lega. Ia menengadahkan wajahnya ke langit sambil menggemggam telegram itu di dadanya.

“Kita tidak jadi pergi..” Kata Zaenuddin kepada kawannya. Ia kembali masuk rumah dan diikuti kawannya. Koran yg sempat membuatnya kaget tadi, dipakai untuk alas sujud syukur…

Hamka termangu ikut terharu memandangi wajah kawannya yg penuh syukur itu..

Terlintas kemudian di benak Hamka untuk menulis sebuah roman berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” dengan tokoh utama bernama Zaenuddin….ub

Kopas dari isi WA bc Bang Galib Mas’ud, (salah seorang pendiri ikpm sulselbar)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s