PARA KYAI, ASATIDZ, USTADZAH, KADER DAN KELUARGA PESANTREN, WASPADALAH, WASPADALAH!

Dr. KH. Abdullah syukri Zarkasyi, MA

Inspirasi terbesar yang diwariskan pesantren ke dalam diri setiap penghuninya adalah dinamikanya yang tidak pernah mati. Datanglah jam berapapun, ada geliat aktifitas merancang perubahan di dalamnya. Dua puluh empat jam sehari sungguh tidak cukup untuk mewadahi cita-cita perubahan yang dikibarkan pesantren. Penghuni pesantren telah terpola untuk mempunyai etos kerja, etos keilmuan dan integritas moral melampaui ruang dan waktu. 
 Dinamika kehidupan pesantren yang tidak pernah berhenti berputar telah mencetak mereka menjadi serupa dengan ribuan, jutaan semut yang sanggup mengangkat beban puluhan, ratusan kali lipat dari berat tubuhnya. Jutaan semut santri itu bergerak, beraktifitas, berperan dalam dinamika kolektif yang padu. 
Dinamika itu pula yang perlahan namun pasti menyulap pesantren di tengah hutan desa itu menjadi istana tersembunyi yang tidak berhenti memperbesar diri. Kalau anda tidak sempat berkunjung dalam kurun satu tahun, pasti dikejutkan oleh kemunculan gedung-gedung baru. Sungguh seperti terbit dari bumi. Kalau kunjungan terakhir Anda adalah dua tahun yang lalu, Anda dikejutkan oleh dua atau tiga sepeda motor baru yang parkir di hampir setiap rumah guru kader. Kalau terakhir Anda datang tiga tahun yang lalu, sepeda motor itu tinggal satu saja, sebagai gantinya, sebuah mobil parkir di garasi. Kesejahteraan materi begitu murah di pesantren. Kesejahteraan materi itu adalah buah dari kegigihan dan berkah dari kolektifitas yang dikembangkan. 
_Tetapi inilah justru titik rawannya: kesejahteraan materi._
Dinamika kehidupan pesantren berputar begitu deras di atas pondasi ketulusan, sama sekali jauh dari kepentingan duniawi. Ketulusan itu membuat haru kerajaan malaikat dan mereka tergerak untuk turun melipatgandakan energi para santri. Terwujudlah keajaiban itu: satu santri bernilai seribu orang. Sehingga empat ribu santri berkarya setara dengan prestasi empat juta pekerja. Percepatan ini adalah energi ketulusan. Dinamika ini adalah derap kaki tentara Tuhan yang tidak terlihat, ’junuud lan tarauhaa!’ Tetapi kesejahteraan materi adalah perangkap. 
*Kesejahteraan materi adalah jebakan. Kemapanan adalah ancaman.*
Pesantren kecil dibesarkan oleh dinamika perjuangan dan demonstrasi ketulusan. Sekarang pesantren besar tengah menghadapi bahaya besar: degradasi ketulusan. Dulu para kader tidak berebut harta karena saat pesantren masih kecil, harta yang ada tidak cukup menggiurkan. Sekarang semua potensi untuk sejahtera dimiliki pesantren. Inilah kerawanan itu: semua kader rawan tergelincir ke dalam kubangan motivasi dan spirit duniawi. Bila ini terjadi, pesantren yang sudah besar bukan mustahil menjadi bangkai banteng gemuk yang diperebutkan Heina, Harimau dan burung-burung… Bila ini terjadi, tentara Tuhan yang tak terlihat itu akan minggat, tinggallah empat ribu penghuni pesantren setara dengan empat puluh pekerja berkualitas ala kadarnya.
Fakta sejarah menegaskan keruntuhan pesantren bukan akibat konfrontasi dengan dunia luar melainkan kegagalan menjaga kemenangan atas diri sendiri. Para Kyai, waspadalah, waspadalah!
*_Pengasuh dan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo._*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s